JAKARTA – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya mengungkap temuan awal terkait insiden maut yang merenggut nyawa tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian UNIFIL di Lebanon. Berdasarkan hasil investigasi, PBB mengonfirmasi bahwa salah satu personel TNI gugur akibat hantaman proyektil tank yang dilepaskan oleh militer Israel.
Temuan Bukti di Lapangan
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stephane Dujarric, menjelaskan bahwa kesimpulan ini diambil setelah tim melakukan analisis mendalam di lokasi kejadian (posisi PBB 7-1) dan memeriksa serpihan amunisi yang ditemukan.
Berdasarkan bukti-bukti tersebut, proyektil yang menyebabkan insiden pada 29 Maret itu diidentifikasi sebagai:
Jenis Senjata: Peluru utama tank kaliber 120 mm.
Asal Tembakan: Tank Merkava milik Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Arah Serangan: Ditembakkan dari arah timur menuju wilayah Ett Taibe.
Pernyataan Resmi PBB
Dujarric menyampaikan informasi tersebut dalam konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (8/4/2026). Penemuan fragmen proyektil ini menjadi bukti kunci dalam mengungkap pelaku penembakan terhadap markas pasukan penjaga perdamaian dunia tersebut.
Hingga saat ini, laporan ini masih bersifat hasil penyelidikan awal, sementara pihak terkait terus memantau perkembangan situasi keamanan di perbatasan Lebanon-Israel pasca-insiden tersebut.
Dua Prajurit Gugur Akibat Bom Rakitan
Selain serangan tank, Stephane Dujarric mengungkapkan bahwa dua personel TNI lainnya yang gugur pada insiden berbeda (30 Maret) disebabkan oleh ledakan bom rakitan atau Improvised Explosive Device (IED).
Berdasarkan investigasi di tempat kejadian perkara, PBB menemukan fakta-fakta berikut:
Pemicu Ledakan: Bom tersebut diduga kuat berjenis ranjau jebakan (tripwire) yang meledak saat terpicu oleh gerakan korban.
Bukti Fisik: Penyelidikan didasarkan pada analisis kerusakan kendaraan, pola ledakan, serta penemuan perangkat IED kedua di sekitar lokasi pada hari yang sama.
Dugaan Pelaku: Melihat lokasi penempatan dan pola konfliknya, PBB menilai bom rakitan tersebut kemungkinan besar dipasang oleh kelompok Hizbullah.
PBB Bentuk Dewan Penyelidikan; Presiden Prabowo Kecam Keras
PBB menegaskan bahwa seluruh temuan yang dirilis saat ini barulah merupakan hasil investigasi awal. Untuk mendapatkan gambaran menyeluruh di tengah konflik yang masih memanas, PBB berkomitmen menjalankan prosedur investigasi penuh.
"Kami akan membentuk Dewan Penyelidikan untuk mengusut tuntas kedua insiden tersebut sesuai dengan protokol resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa," tegas Stephane Dujarric.
Kronologi dan Identitas Prajurit yang Gugur
Insiden berdarah di Lebanon Selatan tersebut merenggut nyawa tiga putra terbaik bangsa yang kini telah mendapatkan kenaikan pangkat anumerta:
Minggu (29/3): Kopda (Anumerta) Farizal Rhomadhon gugur setelah terkena ledakan proyektil di kawasan Desa Adchit al-Qusayr.
Senin (30/3): Mayor Inf (Anumerta) Zulmi Aditya Iskandar dan Serka (Anumerta) M. Nur Ichwan meninggal dunia akibat ledakan yang menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan. Peristiwa ini juga menyebabkan dua prajurit lainnya luka-luka.
Duka Mendalam dan Kecaman Presiden
Presiden Prabowo Subianto menyatakan duka mendalam atas gugurnya para prajurit yang tengah menjalankan misi suci perdamaian. Melalui unggahan di media sosial, Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan hilangnya nyawa anggota TNI.
Poin Utama Pernyataan Presiden:
Duka Nasional: Menyebut peristiwa ini sebagai kehilangan besar bagi bangsa Indonesia.
Kecaman Keras: Mengutuk segala tindakan yang merusak perdamaian dan menargetkan pasukan penjaga perdamaian.
Penghormatan Terakhir: Presiden mengunggah momen saat dirinya memberikan penghormatan terakhir di depan peti jenazah serta memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan.
"Kami mengecam keras setiap tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit terbaik bangsa," tegas Prabowo dalam pernyataan resminya.